Etika lingkungan hidup, berhubungan
dengan perilaku manusia terhadap lingkungan hidupnya, tetapi bukan
berarti bahwa manusia adalah pusat dari alam semesta (antroposentris).
Lingkungan hidup adalah lingkungan di sekitar manusia, tempat dimana
organisme dan anorganisme berkembang dan berinteraksi, jadi lingkungan
hidup adalah planet bumi ini. Ini berarti manusia, organisme dan
anorganisme adalah bagian integral dari dari planet bumi ini. Hal ini
perlu ditegaskan sebab seringkali manusia bersikap seolah-olah mereka
bukan merupakan bagian dari lingkungan hidup.
Secara entimologis manusia dan bumi sama
sama mempunyai akar kata yang sama dalam bahasa semit, yaitu disebut
‘dm, asal kata adam (manusia) dan adamah, artinya tanah. Manusia adalah
lingkungan hidup, sebab dia mempunyai ciri-ciri dimana seluruh komponen
yang yang ada berasal dari alam ini, yaitu ciri-ciri fisik dan biologis.
Istilah lingkungan hidup pertama kali
dimunculkan oleh Ernst Haeckel, seorang murid Darwin pada tahun 1866,
yang menunjuk kepada keseluruhan organisme atau pola hubungan antar
organisme dan lingkungannya. Ekologi berasal dari kata oikos dan logos,
yang secara harfiah berarti ‘rumah’ dan ‘lingkungan’. Ekologi sebagai
ilmu berarti pengetahuan tentang lingkungan hidup atau planet bumi ini
sebagai keseluruhan. Jadi lingkungan harus selalu dipahami dalam arti
oikos, yaitu planet bumi ini. Sebagai oikos bumi mempunyai dua fungsi
yang sangat penting, yaitu sebagai tempat kediaman (oikoumene) dan
sebagai sumber kehidupan (oikonomia/ekonomi).
Lingkungan hidup di planet bumi dibagi
menjadi tiga kelompok dasar, yaitu lingkungan fisik (physical
environment), lingkungan biologis (biological environment) dan
lingkungan sosial (social environment). Di jaman moderen ini teknologi
dianggap mempunyai lingkungannya sendiri yang disebut (teknosfer) yang
kemudian dianggap mempunyai peran penting dalam merusak lingkungan
fisik.
Untuk mempertahankan eksistensi planet
bumi maka manusia memerlukan kekuatan/nilai lain yang disebut ‘etosfer’,
yaitu etika atau moral manusia. Etika dan moral bukan ciptaan manusia,
sebab ia melekat pada dirinya, menjadi hakikatnya. Sama seperti bumi
bukan ciptaan manusia. Ia dikaruniai bumi untuk dikelola dan pengelolaan
itu berjalan dengan baik dan bertanggung jawab sebab ia juga dikaruniai
etosfer.
Etika adalah hal yang sering dilupakan
dalam pembahasan perusakan lingkungan. Pada umumnya pihak-pihak yang
terlibat dalam konflik ini cenderung langsung menggunakan
fenomena-fenomena yang muncul di permukaan dan kemudian mencari
penyebabnya kepada aktivitas yang ada di sekitar fenomena tersebut
(misalnya: Logging, Pertambangan, Industri dll) sebagai tersangka dan
untuk mendukung kecurigaan tersebut digunakanlah bukti-bukti yang
dikatakan ilmiah, walaupun sering terjadi data yang dikemukakan tidak
relevan.
Pada sisi lain pihak yang dituduh
kemudian juga menyodorkan informasi atau data yang bersifat teknis yang
menyatakan mereka tidak bersalah, akibatnya konflik yang terjadi semakin
panas dan meluas, padahal kalau mereka yang berkonflik memiliki etika
yang benar tentang lingkungan hidup maka konflik yang menuju kearah yang
meruncing akan dapat dicegah.
Apakah yang menyebabkan etika lingkungan
cenderung dilupakan? Pada umumnya disebabkan oleh beberapa hal yaitu
keserakahan yang bersifat ekonomi (materialisme), ketidak tahuan bahwa
lingkungan perlu untuk kehidupannya dan kehidupan orang lain serta
keselarasan terhadap semua kehidupan dan materi yang ada disekitarnya,
atau karena telah terjadi transaksi jiwa antara perusak lingkungan
dengan Mephistopheles, sehingga yang di kedepankan adalah meraih
puncak-puncak nafsu yang ada di bumi dan sekaligus mendapatkan
bintang-bintang indah di langit atau surga. Bukankah ini sesuatu yang
ironis ?
Lingkungan hidup bukanlah obyek untuk
dieksploitasi secara tidak bertanggung jawab, tetapi harus ada suatu
kesadaran bahwa antara manusia dan lingkungan terdapat adanya relasi
yang kuat dan saling mengikat. Rusaknya lingkungan hidup akan berakibat
pada terganggunya kelangsungan hidup manusia. Karena itu setiap kali
kita mengeksploitasi sumberdaya mineral dari alam yang diciptakan oleh
Tuhan, kita harus memperhitungkan dengan seksama manfaat apa yang akan
dihasilkannya bagi kemaslahatan manusia. Dengan demikian pemanfaatan ini
tetap dalam tujuan transformasi menjadi manusia yang merdeka, cerdas,
dan setara satu dan lainnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar