Wanita sinonim dengan kecantikan. Istilah “mir’ah”
dalam bahasa Arab sangat dekat dengan wanita – kerana cermin itu dekat
pula dengan kecantikan. Bercermin untuk kelihatan cantik. Ke mana-mana
wanita pergi, cermin ada di sisi.
Tunggu
dulu, setiap yang Allah cipta pasti indah karena Allah itu Maha Indah
dan mencintai keindahan. Tuhan tidak mencipta manusia buruk, Tuhan hanya
mencipta manusia dengan kecantikan berbeda. Jadi, ingat itu, setiap
wanita berhak untuk cantik!
Masalahnya,
di manakah letak kecantikan sebenarnya pada seorang wanita? Kalau kita
tanyakan kepada para lelaki maka sudah pasti kita akan temui berbagai
jawaban. Ada yang menilai kecantikan wanita itu pada wajah, pada bentuk
tubuh, pada kebijaksanaan atau pada tingkah lakunya.
Dan
pada yang menyatakan kecantikan pada wajah pula terbagi kepada berbagai
pandangan, ada yang mengatakan kecantikannya terletak pada hidung, pada
mata dan sebagainya. Pendek kata kecantikan itu bagi sebagian orang
relatif sifatnya. Lain orang, lain penilaiannya.
Namun
sebagai muslim, kita tentulah ada kayu ukur tersendiri untuk menilai
kecantikan. Kita tentunya mengukur kecantikan wanita mengikut kayu ukur
Islam. Dan tentu saja kecantikan yang menjadi penilaian Islam adalah
lebih hakiki dan lebih pasti.
Misalnya,
kalaulah kecantikan itu hanya terletak pada wajah, wajah itu
lambat-laun akan dimakan usia. Itu hanya bersifat sementara. Apabila
usia meningkat, kulit akan berkerut tentulah wajah tidak cantik lagi.
Jadi tentu ini bukan ukuran kecantikan yang sejati dan abadi.
Sebagai
hamba Allah, kita hendaklah melihat kecantikan selaras dengan penilaian
Allah atas keyakinan apa yang dinilai oleh-Nya lebih tepat dan benar.
Apakah kecantikan yang dimaksudkan itu? Kecantikan yang dimaksudkan
ialah kecantikan budi pekerti ataupun akhlak. Itulah misi utama
kedatangan Rasulullah SAW, untuk menyempurnakan akhlak manusia.
Kecantikan
akhlak jika ada pada seseorang, lebih kekal. Inilah kecantikan yang
hakiki mengikut penilaian Allah. Hancur badan dikandung tanah, budi baik
di kenang juga. Kecantikan akhlak ini juga adalah satu yang lebih
abadi. Kata pepatah lagi, hutang budi dibawa mati. Malah akhlak yang
baik juga sangat disukai oleh hati manusia. Contohnya, kalaulah ada
orang yang wajahnya saja yang cantik tetapi akhlaknya buruk, pasti dia
akan dibenci.
Ya,
mata menilai kecantikan pada rupa. Akal menilai pada fikiran. Nafsu
menilai pada bentuk tubuh. Tetapi hati tentulah pada akhlak dan budi.
Kecantikan akhlak ini diterima oleh semua orang. Katalah orang jujur,
siapapun suka. Semua orang sepakat menyayangi orang yang jujur itu
disukai. Sedangkan jika menurut ukuran rupa, penilaian manusia tetap
tidak sama. Sebab itu ada pepatah yang mengatakan, ‘beauty in the eye of beholder’.
Rasulullah
SAW juga telah pernah menegaskan, sebaik-baik perhiasan adalah wanita
yang solehah. Wanita solehah ialah perhiasan rumahtangga, perhiasan
masyarakat dan perhiasan negara. Jika ada ibu yang solehah, anak-anaknya
tentu mendapat manfaat. Mereka akan terdidik dengan baik.
Jika
ada isteri yang solehah, suami pun akan mendapat manfaat. Para isteri
ini akan memudahkan urusan rumah-tangga, menjalinkan hubungan keluarga
dengan penuh kasih-sayang dan lain-lain. Tuturkatanya baik, tingkah
lakunya baik, senyumannya menawan dan segala-galanya indah, mereka
bayangan bidadari syurga di dunia ini.
Kenapa
banyak wanita yang memiliki kecantikan tetapi musnah hidupnya? Ada
ungkapan yang berbunyi, kemusnahan akan menimpa bila wanita mula merasai
dirinya cantik dan memamerkan kecantikan. Sejauh mana benarnya,
wallahua’lam. Tetapi apa yang pasti, menurut Islam jika kecantikan tidak
disertai iman yang kuat, maka pemiliknya akan hilang kawalan diri.
Akibatnya ramai wanita cantik diperdayakan oleh syaitan untuk menggoda
manusia melakukan kemungkaran. Lihatlah di sekeliling kita. Kata orang,
bunga yang cantik jarang yang harum! Ini sudah menjadi sesuatu yang
lumrah.
Tanpa
iman, kecantikan akan dipergunakan ke arah kejahatan dan kemaksiatan,
yang akhirnya akan memusnahkan diri pemiliknya dan orang lain. Coba kita
lihat apa yang terjadi kepada bintang film Barat (di sinipun apa
kurangnya), ada yang memporak-perandakan negara, rumah-tangga dan
berakhir dengan sakit jiwa dan bunuh diri sangat disayangkan bukan?.
Cantik
tidak salah, tetapi salah menggunakan kecantikkan itulah yang salah.
Kata orang, wanita yang cantik jarang berakhlak. Umpama bunga yang
cantik, jarang yang wangi. Tetapi kalau cantik dan berakhlak pula,
inilah yang hebat. Umpama cantiknya wanita solehah pada zaman nabi
seperti Aishah RA, Atikah binti Zaid dan lain-lain.
Lalu,
bagaimanakah mendapat kecantikan sejati itu? Perlu kita fahami
kecantikan itu bermula dari dalam ke luar. Bukan sebaliknya. Oleh karena
itu pertama, tanamkan di dalam hati kita iman yang benar-benar kuat
berdasarkan ilmu yang tepat dan penghayatan yang tinggi. Iman itu
keyakinan, kasih sayang, kemaafan, sangka baik dan ridho. Bila hati
baik, wajah akan sentiasa cantik.
Jadi
perkara kedua ialah iringilah iman itu dengan perbuatan yang baik.
Artinya, kita atur kehidupan mengikuti syariat atau peraturan Tuhan. Dan
apabila iman ditanam, syariat ditegakkan, akan berbuahlah akhlak yang
mulia. Wajah, perilaku dan peribadi kita akan nampak cantik sekali.
Inilah yang dikatakan kecantikan yang hakiki. Biar buruk rupa, jangan
buruk perangai. Apa gunanya mulut yang cantik kalau kita gunakan untuk
mengumpat?
Oleh
karena itu, kecantikan akhlak boleh dimiliki oleh siapa saja, oleh yang
rupawan maupun yang kekurangan. Itu bukti keadilan Allah yang mencipta
wanita dengan berbagai wajah dan rupa, tapi peluangnya untuk “cantik”
tetap serupa!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar